1.ANDIANA
FITRI
2.ALDIAN
EKA
3.DICKY
ADIMAS
4.HENDIKA
MISBAHUL
5.MIFTAHUL
JANNAH
6.NABELA
CHITRA S
7.VIVI
AZIZAZMITA
PROGRAM
STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN
CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
.
DVT
(Deep Vein Thrombosis) adalah suatu kondisi dimana ada pembentukan gumpalan
darah dalam sistem mendalam pembuluh darah. Ini mungkin bukan penyakit serius,
tetapi pasien harus menyediakan dengan pengobatan segera untuk menghindari
komplikasi serius di masa depan.
Trombosis vena dalam atau DVT biasanya muncul di kaki, paha, dan beberapa bagian tubuh. Meskipun hanya bekuan darah yang terbentuk di dalam sistem individu, dapat sepenuhnya atau sebagian darah aliran darah seseorang di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri kronis. Hal ini juga dapat merusak katup pembuluh darah ', yang akan memberi Anda kesulitan untuk mendapatkan sekitar. Bekuan darah yang terbentuk juga dapat melakukan perjalanan dan istirahat gratis melalui organ utama lainnya seperti paru-paru dan jantung. Oleh karena itu, kondisi ini bukan biasa karena dapat menyebabkan kematian satu orang dalam waktu beberapa jam.
Trombosis vena dalam atau DVT biasanya muncul di kaki, paha, dan beberapa bagian tubuh. Meskipun hanya bekuan darah yang terbentuk di dalam sistem individu, dapat sepenuhnya atau sebagian darah aliran darah seseorang di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri kronis. Hal ini juga dapat merusak katup pembuluh darah ', yang akan memberi Anda kesulitan untuk mendapatkan sekitar. Bekuan darah yang terbentuk juga dapat melakukan perjalanan dan istirahat gratis melalui organ utama lainnya seperti paru-paru dan jantung. Oleh karena itu, kondisi ini bukan biasa karena dapat menyebabkan kematian satu orang dalam waktu beberapa jam.
1.2
Tujuan
- Untuk mengetahui penyebab terjadinya DVT dan komplikasi yang ditimbulkan
- Untuk mengetahui penanganan dari DVT.
1.3
Rumusan masalah
- Bagaimana penyebab terjadinya DVT dan komplikasi yang di timbulkan
- Bagaimana penanganan dari DVT.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
DVT adalah kondisi dimana bekuan darah dalam bentuk deep vein(vena dalam), biasanya di kaki.
Ada dua tipe
dari vena-vena di kaki; vena-vena superficial (dekat permukaan) dan
vena-vena deep (yang dalam). Vena-vena superficial terletak tepat
dibawah kulit dan dapat terlihat dengan mudah pada permukaan. Vena-vena deep,
berlokasi dalam didalam otot-otot dari kaki. Darah mengalir dari vena-vena
superficial ke dalam sistem vena dalam melalui vena-vena perforator yang
kecil. Vena-vena superficial dan perforator mempunyai klep-klep (katup-katup)
satu arah yang mengalirkan darah balik ke jantung ketika vena-vena ditekan atau
ketika tubuh beraktivitas.
Bekuan darah
(thrombus) dalam sistem vena dalam dari kaki sebenarnya tidak berbahaya. Situasi
menjadi mengancam nyawa ketika potongan dari bekuan darah terlepas (embolus,
pleural=emboli), berjalan melalui jantung ke dalam sistem peredaran paru, dan
menyangkut dalam paru. Diagnosis dan perawatan dari deep venous thrombosis
(DVT) dimaksudkan untuk mencegah pulmonary embolism.
Bekuan-bekuan
dalam vena-vena superficial tidak memaparkan bahaya yang menyebabkan pulmonary
emboli karena klep-klep vena perforator bekerja sebagai saringan untuk mencegah
bekuan-bekuan memasuki sistem vena dalam. Mereka biasanya tidak berisiko
menyebabkan pulmonary embolism.
2.2 Klasifikasi
klasifikasi umum DVT terbagi menjadi- venous thromboembolism (VTE), yang terjadi pada pembuluh balik
- arterial thrombosis, yang terjadi pada pembuluh nadi
2.3
Etiologi
Pada
dasarnya penyebab utama DVT belum jelas, namun ada 3 faktor yang dianggap
penting dalam pembentukan bekuan darah, hal ini dihubungkan dengan :
- statis aliran darah
- abnormalitas dinding pembuluh darah
- gangguan mekanisme pembekuan
Statis
vena terjadi bila aliran darah melambat, seperti pada gagal jantung dan syock ;
ketika vena berdilatasi, sebagai akibat terapi obat, dan bila kontraksi otot
skeletal berkurang, seperti pada istirahat lama, paralysis ekstremitas atau
anestesia. Tirah baring terbukti memperlambat aliran darah tungkai sebesar 50%.
Kerusakan lapisan intima pembuluh darah menciptakan tempat pembentukan bekuan
darah. Trauma langsung pada pembuluh darah, seperti pada fraktur atau
dislokasi, penyakit vena dan iritasi bahan kimia terhadap vena, baik akibat
obat atau larutan intra vena, semuanya dapat merusak vena. Kenaikan
koagubilitas terjadi paling sering pada pasien dengan penghentian obat ani
koagulan secara mendadak. Kontrasepsi oral dan sejumlah besar diskrasia dapat
menyebabkan hiperkoagulabilitas.
2.4 Tanda Dan
Gejala
Ada
beberapa kasus DVT yang bisa terjadi tanpa gejala. Jika Anda memiliki gejala
DVT tercantum di bawah ini dan mereka telah terjadi kepada Anda tiba-tiba,
memanggil dokter Anda secepat mungkin adalah ide yang baik. Berikut adalah
gejala berikut DVT:
Pembengkakan kaki
Pembengkakan kaki
Kelelahan
kaki
Vena
permukaan terlihat
Warna
atau kulit merah
Kelembutan
atau nyeri di kedua kakinya. Ini mungkin terjadi saat Anda berjalan atau
berdiri.
Penyebab Deep Vein Trombosis
Penyebab Deep Vein Trombosis
DVT
atau deep vein thrombosis terjadi ketika ada kehadiran pembentukan bekuan darah
dalam pembuluh darah yang terletak di dalam otot tubuh seseorang. Ini biasanya
terjadi di kaki, tetapi juga dapat berkembang pada dada, lengan atau beberapa
bagian tubuh. DVT adalah kondisi umum yang dialami oleh banyak orang, tetapi
hal ini dapat berbahaya jika Anda akan mengabaikannya. Bekuan darah terbentuk
di dalam pembuluh darah dapat menghalangi sirkulasi darah tubuh Anda di otak,
jantung, dan paru-paru. Menurut para ahli, penyebab utama mengapa beberapa
orang mendapatkan DVT adalah karena mereka memiliki sirkulasi darah yang buruk
dalam tubuh mereka.
Selain
penyebab DVT, ada juga beberapa faktor yang meningkatkan risiko untuk
mengembangkan pengobatan vena dalam. Salah satu faktor tersebut adalah usia
seseorang. Kebanyakan individu yang memiliki usia 60 dan di atas memiliki DVT.
Faktor gaya hidup lain yang meningkatkan risiko DVT termasuk aktif atau duduk
selama berjam-jam, berat badan ekstra, perjalanan panjang dengan mobil atau
penerbangan panjang pesawat, dan merokok.
2.5 Patofisiologi
DVT adalah
peradangan pada dinding vena dan biasanya disertai pembentukan bekuan darah.
Ketika pertama kali terjadi bekuan pada vena akibat statis atau
hiperkoagulabilitas, tanpa disertai peradangan maka proses ini dinamakan flebotrombosis.
Trombosis vena dapat terjadi pada semua vena, namun yang paling sering
terjadi adalah pada vena ekstremitas . Gangguan ini dapat menyerang baik vena
superficial maupun vena dalam ungkai. Pada vena superficial, vena safena
adalah yang paling sering terkena. Pada vena dalam tungkai, yang paling sering
terkena adalah vena iliofemoral, popliteal dan betis.
Trombus vena tersusun atas agregat trombosit yang
menempel pada dinding vena , disepanjang bangunan tambahan seperti ekor yang
mengandung fibrin, sel darah putih dan sel darah merah. “Ekor “ dapat tumbuh
membesar atau memanjang sesuai arah aliran darah akibat terbentuknya lapisan
bekuan darah. Trombosis vena yang terus tumbuh ini sangat berbahaya karena
sebagian bekuan dapat terlepas dan mengakibatkan oklusi emboli pada pembuluh
darah paru. Fragmentasi thrombus dapat terjadi secara spontan karena bekuan
secara alamiah bisa larut, atau dapat terjadi sehubungan dengan peningkatan
tekanan vena, seperti saat berdiri tiba-tiba atau melakukan aktifitas otot
setelah lama istirahat.
2.6 WOC
2.7 Komplikasi
Komplikasi
dari DVT sangat umum, tetapi mereka bisa berbahaya dan harus dianggap serius.
Jika ada bekuan darah terbentuk dalam pembuluh darah Anda, Anda mungkin
menghadapi masalah yang mengancam jiwa dan beberapa komplikasi DVT. Salah satu
yang dikenal dan umum komplikasi DVT adalah pulmonary embolism. Ini terjadi
jika bekuan telah sepenuhnya atau sebagian diblokir arteri paru-paru. Hal ini
dapat terjadi tepat setelah pembentukan bekuan kaki atau hari kemudian setelah
pembentukan bekuan darah di pembuluh darah dalam. Para ahli menyatakan bahwa
setidaknya sepuluh persen pasien dengan DVT mungkin memiliki emboli paru.
DVT
adalah kondisi yang tak boleh diambil untuk diberikan. Dengan mengetahui lebih
lanjut tentang tanda-tanda dan gejala, penyebab dan komplikasi yang mungkin,
orang akan dapat menentukan tindakan yang terbaik yang mereka dapat mengambil
dalam rangka untuk membebaskan diri dari kekhawatiran dibawa oleh kondisi
tertentu.
Penyebab bersin-bersin dipagi hari
Penyebab bersin-bersin dipagi hari
2.8 Pemeriksaan Penunjang
Venography, menyuntikan zat pewarna (dye)
kedalam vena-vena untuk mencari thrombus, umumnya tidak dilakukan lagi dan
telah lebih menjadi catatan kaki sejarah.
D-dimer adalah tes darah yang mungkin
digunakan sebagai tes penyaringan (screening) untuk menentukan apakah ada
bekuan darah. D-dimer adalah kimia yang dihasilkan ketika bekuan darah dalam
tubuh secara berangsur-angsur larut/terurai. Tes digunakan sebagai indikator
positif atau negatif. Jika hasilnya negatif, maka tidak ada
bekuan darah. Jika tes D-dimer positif, itu tidak
perlu berarti bahwa deep vein thrombosis hadir karena banyak situasi-situasi
akan mempunyai hasil positif yang diharapkan (contohnya, dari operasi, jatuh,
atau kehamilan). Untuk sebab itu, pengujian D-dimer harus digunakan secara
selektif.
EKG adalah
Elektrokardiogram (ECG atau EKG) adalah tes non-invasif yang digunakan untuk mencerminkan kondisi jantung yang mendasarinya dengan mengukur
aktivitas listrik jantung. Dengan posisi lead
(listrik sensing perangkat) pada tubuh di lokasi standar,
informasi tentang kondisi jantung
yang dapat dipelajari dengan mencari pola karakteristik pada EKG
2.9 Penatalaksanaan
Tujuan penanganan medis DVT adalah mencegah
perkembangan dan pecahnya thrombus beserta risikonya yaitu embolisme paru dan
mencegah tromboemboli kambuhan. Terapi antikoagulasi dapat mencapai kedua
tujuan tersebut. Heparin yang diberikan selama 10-12 hari dengan infus
intermitten intravena atau infus berkelanjutan dapat mencegah berkembangnya
bekuan darah dan tumbuhnya bekuan baru. Dosis pengobatan diatur dengan memantau
waktu tromboplastin partial (PTT). Empat sampai 7 hari sebelum terapi heparin
intravena berakhir, pasien mulai diberikan antikoagulan oral. Pasien mendapat
antikoagulan oral selama 3 bulan atau lebih untuk pencegahan jangka panjang.
Tidak seperti heparin, pada 50% pasien, terapi
trombolitik, menyebabkan bekuan mengalami dekompensasi da larut. Terapi
trombolitik diberikan dalam 3 hari pertama setelah oklusi akut, dengan
pemberian streptokinase, mokinase atau activator plasminogen jenis jaringan.
Kelebihan terapi litik adalah tetap utuhnya katup vena dan mengurangi insidens
sindrompasca flebotik dan insufisiensi vena kronis. Namun, terapi trombolitik
mengakibatkan insidens perdarahan sekitar tiga kali lipat disbanding heparin.
PTT, waktu protrombin, hemoglobin, hematokrit, hitung trombosit dan tingkat
fibrinogen pasien harus sering dipantau. Diperlukan observasi yang ketat untuk
mendeteksi adanya perdarahan. Apabila terjadi perdarahan, dan tidak dapat
dihentikan, maka bahan trombolitik harus dihentikan.
Penataksanaan Bedah. Pembedahan trombosis vena
dalam (DVT) diperlukan bila : ada kontraindikasi terapi antikoagulan atau trombolitik,
ada bahaya emboli paru yang jelas dan aliran darah vena sangat terganggu yang
dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada ekstremitas. Trombektomi
(pengangkatan trombosis) merupakan penanganan pilihan bila diperlukan
pembedahan. Filter vena kava harus dipasang pada saat dilakukan trombektomi,
untuk menangkap emboli besar dan mencegah emboli paru.
Penatalaksanaan Keperawatan. Tirah baring,
peninggian ekstremitas yang terkena, stoking elastik dan analgesik untuk
mengurangi nyeri adalah tambahan terapi DVT. Biasanya diperlukan tirah baring 5
– 7 hari setelah terjadi DVT. Waktu ini kurang lebih sama dengan waktu yang
diperlukan thrombus untuk melekat pada dinding vena, sehingga menghindari
terjadinya emboli. Ketika pasien mulai berjalan, harus dipakai stoking elastik.
Berjalan-jalan akan lebih baik daripada berdiri atau duduk lama-lama. Latihan
ditempat tidur, seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki, juga dianjurkan.
Kompres hangat dan lembab pada ekstremitas yang terkena dapat mengurangi
ketidaknyamanan sehubungan dengan DVT. Analgesik ringan untuk mengontrol nyeri,
sesuai resep akan menambah rasa nyaman.
Pencegahan
Jika Anda memiliki trombosis vena dalam sebelumnya, gumpalan di kemudian hari mungkin dicegah dengan:• Minum obat yang diresepkan dokter untuk mencegah atau mengobati gumpalan darah
• Konsul ulang dengan dokter Anda untuk merubah obatan dan tes darah.
Jika bepergian lewat udara, bus atau kereta, jalan naik dan turun setiap beberapa jam.
Jika duduk, latih otot betis Anda dengan menarik jempol kaki Anda kearah lutut beberapa kali setiap jam.
Pertimbangkan untuk mengenakan stocking kompresi.
Tetap minum air (hindari kafein dan alkohol) dan gunakan pakaian longgar.
Sesudah operasi atau sakit, cobalah untuk turun tempat tidur dan bergerak segera setelah disarankan oleh dokter Anda. Minum obat untuk mencegah gumpalan darah seperti disarankan dokter sesudah operasi.
BAB III
PEMBAHASAN
PENGKAJIAN
- Aktifitas / Istirahat
Gejala
: Tindakan yang memerlukan duduk atau berdiri lama
Imobilitas
lama (contoh ; trauma orotpedik, tirah baring yang lama, paralysis, kondisi
kecacatan)
Nyeri
karena aktifitas / berdiri lama
Lemah
/ kelemahan pada kaki yang sakit
Tanda
: Kelemahan umum atau ekstremitas
- Sirkulasi
Gejala
: Riwayat trombosis vena sebelumnya, adanya varises
Tanda
: Tachicardi, penurunan nadi perifer pada ekstremitas yang sakit
Varises
dan atau pengerasan, gelembung / ikatan vena (thrombus)
Warna
kulit / suhu
pada ekstremitas yang sakit ; pucat, dingin, oedema, kemerahan, hangat
sepanjang vena
Tanda
human positif
- Makanan / Cairan
Kegemukan
(pencetus untuk statis dan tahanan vena pelvis)
Oedema
pada kaki yang sakit (tergantung lokasi)
- Nyeri / Kenyamanan
Gejala
: Berdenut, nyeri tekan, makin nyeri bila berdiri atau bergerak
Tanda:
Melindungi ekstremitas kaki yang sakiy
- Keamanan
Gejala
: Riwayat cedera langsung / tidak langsung pada ekstremitas atau vena (contoh :
fraktur, bedah ortopedik, kelahiran dengan tekanan kepala bayi lama pada vena
pelvic, terapi intra vena)
Adanya
keganasan (khususnya pancreas, paru, system GI)
Tanda:
Demam, menggigil
- Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala
: Penggunaan kontrasepsi / estrogen oral, adanya terapi antikoagulan (pencetus
hiperkoagulasi)
Kambuh
atau kurang teratasinya episode tromboflebitik sebelumnya
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran darah / statis vena (obstruksi vena
sebagian / penuh ), ditandai dengan : oedema jaringan, penurunan nadi perifer,
pengisian kapiler, pucat, eritema
Hasil
yang diharapkan :
-
Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan oleh adanya nadi perifer / sama,
warna kulit dan suhu
normal, tidak ada odema.
-
Peningkatan perilaku / tindakan yang meningkatkan perfusi jaringa
-
Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas
Intervensi
Keperawatan :
-
Kaji ekstremitas, palpasi tegangan jaringan local, regangan kulit
-
Kaji tanda human
-
Tingkatkan tirah baring selama fase akut
-
Tinggikan kaki bila ditempat tidur atau duduk, secara periodic tinggikan kaki
dan telapak kaki diatas tinggi jantung
-
Lakukan latihan aktif dan pasif sementara di tempat tidur. Bantu melakukan
ambulasi secara bertahap.
-
Peringatkan pasien untuk menghindari menyilang kaki atau hiperfleksi lutut
(posisi duduk dengan kaki menggantung atau berbaring dengan posisi menyilang)
-
Anjurkan pasien untuk menghindari pijatan / urut pada ekstremitas yang sakit
-
Dorong latihan nafas dalam
-
Tingkatkan pemasukan cairan sampai sedikitnya 2000 ml/hari dalam toleransi
jantung
-
Kolaborasi : pemberian kompres hangat/basah atau panas pada ekstremitas yang
sakit ; dan antikoagulan
-
Pantau pemeriksaan laboratorium : masa protrombin (PT), masa tromboplastin
partial (PTT), masa tromboplastin teraktifasi partial (APTT),; darah lengkap
-
Berikan dukungan kaus kaki elastik setelah fase akut, hati-hati untuk
menghindari efek tornikuet
-
Siapkan intervensi bedah bila diindikasikan
Nyeri b.d penurunan sirkulasi arteri dan oksigenasi jaringan
dengan produksi / akumulasi asam laktat pada jaringan atau inflamasi, ditandai
dengan ; pasien mengatakan nyeri, hati-hati pada kaki yang sakit, gelisah dan
perilaku distraksi.
Hasil
yang diharapkan :
Nyeri
hilang / terkontrol, menunjukkan tindakan rileks, mampu tidur / istirahat dan
meningkatkan aktifitas
Intervensi
Keperawatan :
-
Kaji derajat nyeri, palpasi kaki dengan hati-hati
-
Pertahankan tirah baring selama fase akut
-
Tinggikan ektremitas yang sakit
-
Berikan ayunan kaki
-
Dorong pasien untuk sering mengubah posisi
-
Pantau tanda vital : catat peningkatan suhu
-
Kolaborasi : analgesik, antipiretik, pemberian kompres panas pada ekstremitas
Kurang pengetahuan tentang kondisi, program pengobatan b.d kurang terpajan,
kesalan interpretasi, tidak mengenal sumber informasi, kurang mengingat ,
ditandai dengan : minta informasi, pernyataan kesalahan konsep, tidak tepat
dalam mengikuti instruksi, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
Hasil
yang diharapkan :
-
Menyatakan pemahaman proses penyakit, programpengobatan dan pembaasan
-
Berpartisipasi dalam proses belajar
-
Mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medis
-
Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alsan tindakan
Intervensi
Keperawatan :
-
Kaji ulang patofisiologi kondisi dan tanda/gejala, kemungkinan komplikasi
-
Jelaskan tujuan pembatasan aktifitas dan kebutuhan keseimbangan aktifitas /
tidur
-
Adakan latihan yang tepat
-
Selesaikan masalah factor pencetus yang mungkin ada, contoh : tindakan yang
memerlukan berdiri /duduk lama, kegemukan, kontrasepsi oral, imobilisasi, dll
-
Identifikasi pencegahan keamanan, contoh : penggunaan sikat gigi, pencukur
jenggot, dll
-
Kaji ulang kemungkinan interaksi obat dan tekankan perlunya membaca label
kandungan obat yang mungkin obat tersebut dijual bebas
-
Identifikasi efek obat antikoagulan
-
Tekankan pentingnya pemeriksaan lab.
-
Dorong menggunakan kartu / gelang identifikasi
-
Laporkan adanya lesi
DAFTAR PUSTAKA
Mackman
N, Becker R (2010). DVT: a new era in anticoagulant therapy. Arterioscler
Thromb Vasc Biol, 30: 369-371
Brunner & Suddarth (1997), Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol 2, EGC, Jakarta
Marilyn E. Doenges, (1993), Rencana Asuhan
Keperawatan, EGC, Jakarta
Sarwono, dr, ( 1997), Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Edisi 3, Jilid I, FKUI, Jakarta.
http://br1xt0n.blogspot.com/2013/05/memahami-trombosis-vena-dalam.html